Cara Menggunakan Multimeter
Anda ingin belajar
elektronika Harus Lah Mengenal Terlebih DAhulu Mengetahui
Cara Menggunakan Multimeter
Multimeter itu Sangatlah Teramat Penting bagi seorang teknisi elektronika.
Knp???? Ya KarNa Sangat membantu banyak pekerjaan Teknisi dari :
-Menguji komponen yang akan dirakit
-Mengukur Hambatan
-Mengukur tegangan sampai mengukur Arus listrik.
3 fungsi utama DAri MUltimeter adalah :
* Ohmmeter untuk mengukur besaran hambatan listrik
*Voltmeter untuk mengukur besaran tegangan listrik dan
* Amperemeter untuk mengukur arus listrik.
Cara Menggunakan Multimeter
Multimeter itu Sangatlah Teramat Penting bagi seorang teknisi elektronika.
Knp???? Ya KarNa Sangat membantu banyak pekerjaan Teknisi dari :
-Mengukur Hambatan
-Mengukur tegangan sampai mengukur Arus listrik.
3 fungsi utama DAri MUltimeter adalah :
* Ohmmeter untuk mengukur besaran hambatan listrik
*Voltmeter untuk mengukur besaran tegangan listrik dan
* Amperemeter untuk mengukur arus listrik.
1.Cara
menggunakan Ohmmeter
-Mengukur besarnya nilai hambatan
Resistor,
caranya sebagai berikut:
caranya sebagai berikut:
a.Putar sakelar pemilih pada posisi ke (Rx1/Rx10/Rx1k/Rx10k)
b.Colokkan kabel merah ke lubang
positif dan kabel hitam kelubang negatif multimeter.
c.Hubungkan colok kabel merah dan
colok kabel hitam jarum akan bergerak kekanan
d.Aturlah hingga jarum menunnjuk
tepat angka nol dengan memutar pengatur nol yang berada disebelah kanan.
e.Lepaskan kembali colok kabel merah
dan hitam jarum akan kembali keposisi semula.
f.Tempelkan colok merah di kaki
resistor dan colok hitam dikaki lainnya bisa dengan tanpa sentuhan tangan atau
bisa juga dengan dipegang dengan tangan dengan catatan hanya satu tangan jangan
kedua tangan memegang resistor.
g.Jarum akan menunjuk angka
teretentu
HP=PJxBU
HP=Hasil Pengukuran
PJ=Penunjukkan Jarum
BU=Batas Ukur
-Menguji Putus atau tidaknya sebuah
penghantar
Untuk menguji putus atau tidaknya sebuah penghantar:
a.Gunakan saklar pada posisi Rx1k
b.Tempelkan colok kabel merah pada
salah satu ujung dan colok hitam pada ujung lainnya.
c.Bila jarum bergerak kekanan
berarti kawat tidak putus sebaliknya jika jarum tidak bergerak berarti kawat
putus.Jika multimeter tersebut memiliki fitur Buzz anda bisa menggunakan saklar pada posisi Buzz
jika kedua colok ditempelkan keujung kabel maka jika kawatnya tidak putus maka
multimeter akan berbunyi.
-Menguji Kondensator,Dioda
,Transistor dan Transformator.
Cara
menggunakan Voltmeter AC.
Rangkaian elektronika menggunakan
tegangan DC Jadi AC JArang Di pakai Di Multimeter.Tapi untuk mengukur tegangan
powersuplynya.Voltmeter AC juga bisa digunakan untuk mengukur tegangan AC
listrik PLN atau Generator.
Cara
Menggunakan Amperemeter.
Amperemeter
digunakan untuk mengukur besarnya arus listrik DC yang mengalir pada
rangkaian.multimeter hanya bisa mengukur arus listrik DC sampai 500 mA
Park I
Menguji Komponen-Kompunen
1. Menguji Kondensator
- Mula-mula saklar multimeter diputar ke atas. Tanda panah ke atas tepatnya R x Ohm
- Kalibrasi sampai jarum multimeter menunjukkan angka nol tepat saat dua colok (+) dan colok (-) dihubungkan. Putar adjusment untuk menyesuaikan.
- Hubungkan colok (-) dengan kaki berkutub negatif kondensator, sedangkan colok (+) dengan kaki positif kondensator. Lihat jarum. Apabila bergerrak dan tidak kembali berarti komponen tersebut masih baik. Jika bergerak dan kembali tetapi tidak seperti posisi semula berarti komponen rusak. Dan apabila jarum tidak bergerak sama sekali dipastikan putus.
2.
Menguji Resistor / Tahanan Tetap
komponen ini tidak memiliki kutub negatif dan positif tetapi dengan multimeter
kita akan menguji kualitasnya. Tidak menutup kemungkinan adanya kerusakan yang
disebabkan oleh beberapa faktor, salah satu diantaranya karena
terbakar/korsleting karena tidak tahan menahan arus yang lebih besar dari
nilainya.
Untuk
mengujinya dengan multimeter kita boleh membolak-balik kaki resistor ataupun
sebaliknya membolak-balik colok (+) dan colok (-).
Langkah-langkah
pemeriksaan resistor:
- Memutar saklar sampai pada posisi R x Ohm.
- Kalibrasi dengan menghubungkan colok (+) dan colok (-). Kemudian memutar penyetel sampai jarum menunjuk pada angka nol (0). Atau putar control adjusment untuk menyesuaikan.
- Setelah itu kita hubungkan pencolok (+) pada salah satu kaki resistor, begitu pula colok (-) pada kaki yang lain.
- Perhatikan jarum penunjuk. Apakah ia bergerak penuh atau sebaliknya jika bergerak dan tak kembali berarti komponen masih baik. Bila sebaliknya jarum penunjuk skala tidak bergerak berarti resistor rusak.
- Komponen resistor yang masih baik juga bisa dinilai dengan sama atau tidak nilai komponen resistor yang tertera pada gelang-gelang warnanya dengan pengukuran melalui multimeter.
3.
Menguji variabel kondensator
Menguji
variabel kondensator bukan bertujuan untuk mengetahui tingkat kebocoran. Hal
ini disebabkan ia tidak terbuat dari bahan-bahan seperti layaknya yang dipakai
dalam pembuatan elco, kondensator keramik dan lain sebagainya.
Tujuan
pengujian ini hanyalah untuk mengetahui hubungan/kontak langsung antara rotor
dan stator. Jika keduanya berhubungan maka tidak dapat dipakai karena korsleting
sehingga menimbulkan suara gemerisik pada radio. Biasanya varco ang demikian
dapat diketahui dengan cara memutar-mutar varco guna memperoleh signal
(gelombang) dan diiringi suara gemerisik yang lebih tajam dari suara pancaran
pemancar.
Untuk
mengetahui tingkat korsleting pada sebuah varco adalah dengan :
- Pertama-tama memutar saklar multimeter pada posisi R x Ohm atau 1x dan K.
- Kalibrasi seperti biasa.
- Hubungkan colok (-) dan colok (+) pada masing-masing kaki.
- Putar rotornya. Apabila jarum tak bergerak sama sekali berarti varco dalam keadaan baik. Jika bergerak-gerak maka komponen ini terjadi kontak langsung/korsleting.
4.
Menguji Dioda
Komponen
ini memiliki sepasang kaki yang mana masing-masing berkutub negatif dan
positif. Oleh karena itu dalam menguji nanti hendaknya dilakukan dengan benar
dan cermat. Tujuan pengujian alat ini adalah untuk mengetahui tingkat kerusakan
akibat beberapa hal . Pada dioda yang pernah dipakai dalam suatu rangkaian
biasanya disebabkan besarnya tekanan arus sehingga tidak mampu ditahan dan
diubah menjadi DC.
Cara
pengujian:
- Saklar diputar pada posisi Ohmmeter, 1x dan Kalibrasi.
- Hubungkan colok (-) dengan kaki negatif (anoda) dan colok (+) dengan kaki positif (katoda).
- Kemudian pindahkan pencolok (-) pada kaki anoda dan colok (+) pada kaki katoda. Bila jarum bergerak berarti dioda tersebut rusak. Jika sebaliknya (tak bergerak) maka dioda dalam keadaan baik.
5.
Menguji Transformator
Transformator
saat kita beli harus dan wajib untuk kita check apakah masih baik dan
berfungsi. Karena untuk trafo biasanya tidak diberi garansi apabila rusak
setelah dibeli. Hal ini dimungkinkan adanya pemutusan hubungan di
gulungan/lilitan sekunder atau primer.
Langkah-langkah:
- Putar multimeter saklar pada posisi Ohm 1x.
- Kalibrasi.
- Hubungkan colok (-) dengan salah satu kaki di gulungan primer, colok (+) pada kaki yang lain di gulungan primer. Bila jarum bergerak maka trafo dalam keadaan baik.
- Pada gulungan sekunder lakukan hal yang sama. Apabila jarum multimeter bergerak-gerak maka trafo dalam keadaan baik. Selisih nilai sama dengan selisih tegangan yang tertera pada trafo.
- Letakkan colok (-) atau colok (+) ke salah satu kaki di gulungan primer kemudian colok yang lain ke gulungan sekunder. Apabila jarum tidak bergerak maka trafo dalam keadaan baik, menandakan tidak adanya korsleting gulungan primer dengan sekunder dengan body trafo. Lakukan hal sebaliknya.
- Langkah terakhir, letakkan colok (-) atau colok (+) ke salah satu kaki di gulungan primer atau sekunder kemudian colok yang lain ke plat pengikat gulungan yang berada di tengah. Apabila jarum tidak bergerak maka trafo dalam keadaan baik, menandakan tidak adanya korsleting gulungan dengan body trafo.
Park II
1. Menguji Kondensator
-Kondensator Elektrolit/Elco
a.Stel skala multimeter pada
posisi Ohm meter
b.Stel jarum multimeter ke
angka nol dengan menghubungkan dua colok merah dan hitam Putar adjusment untuk
menyesuaikan.
c.Hubungkan colok merah dengan kaki
kondensator kutub negatif,colok hitam ke kaki positif kondensator.
Apabila jarum bergerak dan kembali ketempat semula berarti kondensator
tersebut masih baik. Jika bergerak dan kembali tetapi tidak seperti posisi
semula berarti rusak. Jika jarum bergerak tapi tidak kembali berarti
bocor.Dan apabila jarum tidak bergerak sama sekali berarti putus.
-Kondensator Non Polar
a.stel skala multimeter pada posisi
ohm meter
b.stel jarum multimeter ke angka 0
c.Hubungkan colok ke masing2
kaki.Jika jarum diam berarti kondensator masih baik.Jika jarum bergerak berarti
rusak.
2. Menguji variabel
kondensator/Varco
Menguji variabel kondensator
berbeda dengan menguji kondensator elektrolit.Jika pada kondensator elektrolitt
yang diuji adalah tingkat kebocorannya maka pada variable kondensator yang
diuji adalah ada tidaknya hubungan singkat antara rotor dan stator.Jika
keduanya berhubungan maka tidak bisa digunakan karena korsleting karena akan
menimbulkan suara gemerisik pada radio. Caranya mengujinya adalah sbb:
a.Stel saklar multimeter pada
posisi Ohm meter.
b.Stel jarum keangka 0
c.Hubungkan colok merah dan
colok hitam pada masing-masing kaki.
d.Putar rotornya. Apabila jarum tak
bergerak sama sekali berarti varco dalam keadaan baik. Jika bergerak-gerak maka
komponen ini terjadi kontak langsung/korsleting.
3. Menguji Resistor
-Resistor Tetap
Kondisi resistor dapat diketahui
dengan mengukur hambatannya dengan multimeter.Jika nilai hambatan yang
ditunjukkan multimeter tidak sama dengan nilai yang terbaca melalui warna
resistor berarti resistor tersebut sudah rusak.Salah satu ciri resistor yang
sudah rusak antara lain bodinya hangus atau pecah.
-Potensio/Variabel Resistor
a.Stel saklar multimeter pada posisi
ohm meter.
b.Stel jarum keangka 0.
c.Hubungkan colok merah dikaki
tengah,colok merah dikaki 1 atau 3 sambil diputar sampai maximum.Apabila jarum
bergerak berarti potensio masih baik.Bila tidak bergerak berarti rusak.
4.Menguji Dioda
Pada umumnya dioda akan rusak jika
mendapat arus maju yang terlalu besar atau tegangan balik yang terlalu
tinggi.cara mengujinya adalah sbb;
a.Stel Saklar pada posisi Ohmmeter,
b.Hubungkan colok merah dengan kaki
katoda dan colok hitam dengan kaki anoda.Jika jarum bergerak menunjuk
angka tertentu berarti dioda masih baik.
c.Kemudian pindahkan pencolok merah
pada kaki anoda dan colok hitam pada kaki katoda.Jika jarum diam berarti
dioda masih bagus.jika jarum bergerak berarti dioda tersebut rusak.
5.Menguji Transisitor
Untuk menguji transistor anda harus
bisa menentukan kaki transistor terlebih dahulu.
Caranya adalah sbb:
a.Stel saklar multimeter pada posisi
Ohm meter.
b.Stel jarum keangka 0.
c.Untuk jenis PNP hubungkan colok
merah kekaki basis,kemudian secara bergantian colok hitam dihubungkan kekaki
kolektor dan emitor.Apabila keduanya menunjuk keangka tertentu berarti transistor
baik.Bila jarum tidak bergerak berarti transisitor rusak.
d.Untuk jenis NPN hubungkan colok
hitam kekaki basis,kemudian secara bergantian colok merah dihubungkan kekaki
kolektor dan emitor.Apabila keduanya menunjuk keangka tertentu berarti transistor
baik.Bila jarum tidak bergerak berarti transisitor rusak.
6.Menguji Transformator
Tips untuk anda saat membeli
transformator: ujilah ditempat anda membeli.Mintalah garansi apabila ada
masalah waktu dirakit bisa ditukar.Saya punya pengalaman membeli transformator
5A waktu diuji ditoko ok tapi ketika dicoba dialiri tegangan tiba tiba listrik
mati sampai keluar asap,padahal rangkaiannya sudah benar,untungnya bisa ditukar
lagi.
Untuk menguji transformator caranya
sbb:
a.Stel saklar pada posisi Ohm meter.
b.Stel jarum keangka 0
c.Hubungkan colok merah dengan salah
satu kaki di gulungan primer, colok hitam pada kaki yang lain di gulungan
primer. Bila jarum bergerak maka transformator dalam keadaan baik.
d.Pada gulungan sekunder lakukan hal
yang sama. Apabila jarum multimeter bergerak-gerak maka transformator dalam
keadaan baik. .
e.Letakkan colok merah ke
salah satu kaki di gulungan primer kemudian colok yang lain ke gulungan
sekunder. Apabila jarum tidak bergerak maka trafo dalam keadaan baik,
f.Langkah terakhir, letakkan colok
merah atau ke salah satu kaki di gulungan primer atau sekunder kemudian colok
yang lain ke plat pengikat gulungan yang berada di tengah. Apabila jarum tidak
bergerak maka trafo dalam keadaan baik.
Sekarang anda sudah bisa Menguji Komponen
Elektronika sendiri,silahkan dipraktekkan.
Semua Komponen Mempunyai Fungsi Yang berbeda-Beda Yaitu:
Fungsi
Elektrolit Condensator (Elco)
Fungsi elco dalam suatu rangkaian elektronika yaitu di pakai untuk mengetahui nilai kapasitas sebuah elco didalam satuan uf (mikro farad). Fungsi elco biasanya sering di sebut sebagai kapasitor polar. Dalam kapasitor polar mempunyai dua kutub yang berlainan pada setiap kakinya, sehingga didalam pemasangan komponen ini tidak bisa terbalik maupun salah didalam pemasangan.
Fungsi elco dalam suatu rangkaian elektronika yaitu di pakai untuk mengetahui nilai kapasitas sebuah elco didalam satuan uf (mikro farad). Fungsi elco biasanya sering di sebut sebagai kapasitor polar. Dalam kapasitor polar mempunyai dua kutub yang berlainan pada setiap kakinya, sehingga didalam pemasangan komponen ini tidak bisa terbalik maupun salah didalam pemasangan.
Elco atau kondensator/kapasitor elektrolit yaitu komponen
yang mempunyai dua kaki, yakni kaki ( – ) dan kaki ( + ). Fungsi
elco juga bisa di sebut sebagai penyimpan arus listrik searah dc. Rangkaian elco
biasanya di gunakan dalam rangkaian apa saja, misalnya pada power supply
regulator dan rangkaian lainnya. Kapasitor elco di bagi jadi 2 type, yakni
kapasitor polar dan kapasitor bipolar / non polar. Pembagian ini didasarkan
pada polaritas ( kutub positif dan negatif ) dari masing-masing
kapasitor.
Komponen elco juga dapat mengalami kerusakan, seandainya
kerusakan tidak di ketahui maupun elco meletus maka untuk mengetesnya dapat
kita gunakan avometer. Cara pemakaian avometer yaitu dengan menghubungkan kabel
avo ke kaki elco, jika elco normal, jarum pada avometer akan menunjuk ke atas
kemudian perlahan lahan akan turun sampai nilai 0. Bila komponen elco rusak,
maka jarum pada avometer tidak dapat turun dan tetap naik ke atas.
Gambar elco
Kapasitor elektrolit juga biasanya di sebut sebagai
mempunyai fungsi elco, dikarenakan kapasitor ini mempunyai dua buah kaki
yang di tandai dengan kaki panjang (positif) dan kaki pendek (negative).
Nilai kapasitas dari kapasitor ini adalah 47 uf ( mikro farad ) sampai
beberapa ribu mikro farad dengan voltase kerja dari beberapa volt sampai
beberapa ribu volt.
Tak
hanya kapasitor elektrolit yang memiliki polaritas pada kakinya, ada juga
kapasitor yang berpolaritas yakni kapasitor solid tantalum. Kerusakan umum yang
sering di temukan didalam.Fungsi Elco terlebih pada kapasitor elektrolit
yaitu kering ( kapasitasnya berubah ), konsleting listrik dan meledak
yang dikarenakan salah didalam pemasangan tegangan positif dan negatifnya, bila
batas maksimum voltase di lampaui juga dapat mengakibatkan ledakan. Setiap elco mempunyai tegangan kerja yang berbeda-beda,
umumnya batas maksimal tegangan yang diperbolehkan untuk suatu elco tertulis
pada badannya. Tegangan kerja pada elco bisa dinyatakan didalam satuan volt.
Jenis-Jenis DioDa Beserta Fungsinya
Ada
berbagai jenis dioda yang dibuat sesuai dengan fungsinya tanpa meninggalkan
karakteristik serta spesifikasinya, seperti dioda penyearah (rectifier), dioda
Emisi Cahaya (LED), dioda Zenner, dioda photo (Photo-Dioda)
dan Dioda Varactor.
1. DIODA PENYEARAH (RECTIFIER)
Dioda penyearah adalah jenis dioda yang terbuat dari bahan Silikon yang
berfungsi sebagai penyearah tegangan / arus dari arus bolak-balik (ac) ke arus searah (dc) atau mengubah arus ac menjadi dc.
Secara umum dioda ini disimbolnya.
Kaki-kaki dioda yaitu kaki katoda ditandai dengan garis pada ujungnya
Kaki-kaki dioda yaitu kaki katoda ditandai dengan garis pada ujungnya
2. DIODA ZENER
Dioda Zener merupakan dioda junction P dan N yang terbuat dari bahan
dasar silikon. Dioda ini dikenal juga sebagai Voltage Regulation Diode yang
bekerja pada daerah reverse (kuadran
III). Potensial dioda zener berkisar mulai 2,4 sampai 200 volt dengan
disipasi daya dari ¼ hingga 50 watt.
Fenomena
tegangan breakdown dioda ini menginspirasi pembuatan komponen
elektronika kerabat dioda yang bernama Zener. Tidak ada perbedaan struktur
dasar dari Zener dengan dioda. Dengan memberi jumlah doping yang lebih banyak
pada sambungan P dan N, ternyata tegangan breakdown dioda bisa makin cepat
tercapai. Jika pada dioda biasanya baru terjadi breakdown pada tegangan ratusan
volt, pada Zener bisa terjadi pada angka puluhan dan satuan volt. Di datasheet
ada Zener yang memiliki tegangan Vz sebesar 2 volt, 5.6 volt dan sebagainya.
Fungsi dari komponen ini biasanya dipakai untuk pengamanan rangkaian setelah
tegangan Zener.
Perhatikan
rangkaian berikut, input tegangan akan yang masuk ke rangkaian lain dan beban
akan dibatasi oleh dioda zener. Jika input tegangan dibawah 5.6V, dioda tidak
menghantarkan arus sehingga arus akan mengalir ke rangkaian lain dan beban.
Jika input tegangan mencapai 5,6 V atau lebih maka dioda zener akan terjadi
brekadown dan arus akan mengalir melalui dioda, bukan ke rangkaian atau beban.
3. DIODA EMISI CAHAYA ( LIGHT
EMITTING DIODE )
Dioda emisi cahaya atau dikenal dengan singkatan LED merupakan Solid State
Lamp yang merupakan piranti elektronik gabungan antara elektronik dengan optik,
sehingga dikategorikan pada keluarga “Optoelectronic”. Sedangkan
elektroda-elektrodanya sama seperti dioda lainnya, yaitu anoda (+) dan Katoda (-). Ada tiga kategori umum penggunaan LED, yaitu :
- Sebagai lampu indikator,
- Untuk transmisi sinyal cahaya yang
dimodulasikan dalam suatu jarak tertentu,
- Sebagai penggandeng rangkaian
elektronik yang terisolir secara total. Simbol,
bangun fisiknya dan konstruksinya diperlihatkan pada gambar berikut.
Bahan dasar yang digunakan dalam
pembuatan LED adalah bahan Galium Arsenida (GaAs)
atau Galium Arsenida Phospida (GaAsP)
atau juga Galium Phospida (GaP),
bahan-bahan ini memancarkan cahaya dengan warna yang berbeda-beda. Bahan GaAs
memancarkan cahaya infra-merah, Bahan GaAsP memancarkan cahaya merah atau
kuning, sedangkan bahan GaP memancarkan cahaya merah atau hijau.
Seperti halnya piranti elektronik
lainnya , LED mempunyai nilai besaran terbatas dimana tegangan majunya
dibedakan atas jenis warna
TABEL
LED DAN TEGANGANYA
Warna
|
Tegangan Maju
|
Merah
|
1.8 volt
|
Orange
|
2.0 volt
|
Kuning
|
2.1 volt
|
Hijau
|
2.2 volt
|
Sedangkan besar arus maju suatu LED
standard adalah sekitar 20 mA. Karena dapat mengeluarkan cahaya, maka pengujian
LED ini mudah, cukup dengan menggabungkan dengan sumber tegangan dc kecil saja
atau dengan ohmmeter dengan polaritas yang sesuai dengan elektrodanya.
LED konvensional terbuat dari mineral inorganik yang bervariasi sehingga menghasilkan warna sebagai berikut:
* Aluminium Gallium Arsenide (AlGaAs) – merah dan inframerah
* Gallium Aluminium Phosphide – hijau
* Gallium Arsenide/Phosphide (GaAsP) – merah, oranye-merah, oranye, dan kuning
* Gallium Nitride (GaN) – hijau, hijau murni (atau hijau emerald), dan biru
* Gallium Phosphide (GaP) – merah, kuning, dan hijau
* Zinc Selenide (ZnSe) – biru
* Indium Gallium Nitride (InGaN) – hijau kebiruan dan biru
* Indium Gallium Aluminium Phosphide – oranye-merah, oranye, kuning, dan hijau
* Silicon Carbide (SiC) – biru
* Diamond (C) – ultraviolet
* Silicon (Si) – biru (dalam pengembangan)
* Sapphire (Al2O3) – biru
LED biru dan putih
LED biru pertama kali dan bisa dikomersialkan menggunakan substrat galium nitrida. LED ini ditemukan oleh Shuji Nakamura tahun 1993 sewaktu berkarir di Nichia Corporation di Jepang.
LED ini kemudian populer di penghujung tahun 90-an. LED biru ini dapat dikombinasikan ke LED merah dan hijau yang telah ada sebelumnya untuk menciptakan cahaya putih.
LED biru pertama kali dan bisa dikomersialkan menggunakan substrat galium nitrida. LED ini ditemukan oleh Shuji Nakamura tahun 1993 sewaktu berkarir di Nichia Corporation di Jepang.
LED ini kemudian populer di penghujung tahun 90-an. LED biru ini dapat dikombinasikan ke LED merah dan hijau yang telah ada sebelumnya untuk menciptakan cahaya putih.
4. DIODA CAHAYA ( PHOTO-DIODE)
Dioda cahaya ini bekerja pada daerah reverse, jadi hanya arus bocor saja
yang melewatinya. Dalam keadaan gelap, arus yang mengalir sekitar 10 A untuk
dioda cahaya dengan bahan dasar germanium dan 1A untuk bahan silikon. Kuat
cahaya dan temperature keliling dapat menaikkan arus bocor tersebut karena
dapat mengubah nilai resistansinya dimana semakin kuat cahaya yang menyinari
semakin kecil nilai resistansi dioda cahaya tersebut. Penggunaan dioda cahaya
diantaranya adalah sebagai sensor dalam pembacaan pita data berlubang (Punch Tape), dimana pita berlubang
tersebut terletak diantara sumber cahaya dan dioda cahaya. Jika setiap lubang
pita itu melewati antara tadi, maka cahaya yang memasuki lubang tersebut akan
diterima oleh dioda cahaya dan diubah dalam bentuk signal listrik. Sedangkan
penggunaan lainnya adalah dalam alat pengukur kuat cahaya (Lux-Meter), dimana dalam keadaan gelap resistansi dioda cahaya ini
tinggi sedangkan jika disinari cahaya akan berubah rendah. Selain itu banyak
juga dioda cahaya ini digunakan sebagai sensor sistem pengaman (security) misal dalam penggunaan
alarm.
5. DIODA
VARACTOR
Dioda Varactor disebut juga sebagai dioda kapasitas yang sifatnya
mempunyai kapasitas yang berubah-ubah jika diberikan tegangan. Dioda ini
bekerja didaerah reverse mirip dioda Zener. Bahan dasar pembuatan dioda
varactor ini adalah silikon dimana dioda ini sifat kapasitansinya tergantung
pada tegangan yang diberikan padanya. Jika tegangan tegangannya semakin naik,
kapasitasnya akan turun. Dioda varikap banyak digunakan pada pesawat penerima
radio dan televisi di bagian pengaturan suara (Audio).
6. DIODA SCHOTTKY
(SCR)
DIODA SCR singkatan dari Silicon
Control Rectifier. Adalah Dioda yang mempunyai fungsi sebagai pengendali. SCR
atau Tyristor masih termasuk keluarga semikonduktor dengan karateristik yang
serupa dengan tabung thiratron. Sebagai pengendalinya adalah gate(G).SCR sering disebut Therystor. SCR
sebetulnya dari bahan campuran P dan N. Isi SCR terdiri dari PNPN (Positif Negatif Positif Negatif) dan
biasanya disebut PNPN Trioda.
Pada gambar diatas terlihat SCR
dengan anoda pada kaki yang berulir, Gerbang gate pada kaki yang pendek,
sedangkan katoda pada kaki yang panjang.
Jenis – Jenis Transformator (Trafo)
1. Trafo ( Transformator ) Adaptor
Trafo ini berguna untuk mengubah arus AC menjadi DC melalui lilitan gulungan primer dan sekunder. Biasanya digunakan untuk rangkaian catu daya. trafo jenis ini memiliki gulungan yang dapat mengubah tegangan listrik 110 volt sampai 220 volt. Gulungan tersebut ( lilitan ) dinamakan lilitan primer. Sebelum di ubah menjadi arus DC, tegangan listrik dialirkan melalui ribuan penghantar ( lilitan ) yang berakhir pada lilitan sekunder.
Komponen ini banyak dijual di pasar dengan ukuran dan keperluan tertentu. sedangkan sifat-sifatnya adalah sebagi berikut :
- Bentuk fisiknya empat persegi panjang dengan dilapisi pelat tipis dan gulungan ditutup kertas. terdapat beberapa kaki, pada gulungan primer terdapaat tiga kaki sedangkan sekunder tidak kurang dari sembilan kaki
- Gulungan primer menerima arus AC PLN antara 110 - 240 Volt
- Gulungan sekunder menhasilkan arus DC setelah arus AC di proses pada kedua lilitan ini. tegangan yang di keluarkan mulai dari 4 sampai 12 volt
2. Trafo IF ( Frekuensi menengah )
Trafo ini digunakan untuk penguat frekunsi menengah, biasanya terdapat pada
radio penerima jaman dulu. saat ini sudah jarang alat elektronika memakai trafo
jenis ini. cara keja trafo ini adalah menangkap gelombang suara yang
dipancarkan oleh radio pemancar kemudian di olah melalui komponen lainnya.
selanjutnya dikeluarkan dalam bentuk suara ( bunyi ). Trafo IF ini
memiliki bentuk fisik bujur sangkar, pada permukaanya tepat ditengah terdapat
celah untuk memutar ketika membetulkan pancaran bunyi dari radio pemancar.
Kelebihan dari trafo IF ini adalah :
- Dapat diubah-ubah ketika mencari sasaran pancaransecara tepat menggunakan obeng
- Bentuknya kecil sehingga memudahkan pemulaketika memasangnya
- Tetap memiliki lilitan primer dan sekunder
3. Trafo Step UP / Down
Sesuai namanya, trafo ini mampu menaikkan dan menurunkan tegangan sesuai dengan alat elektronika yang digunakan. Artinya benda yang memiliki voltase 110 volt perlu trafo ini karena pada umunya PLN bertegangan 220 volt.
Sifat dari trafo ini adalah sebagai berikut :
- Menghasilkan tegangan lebih besar apabila gulungan sekunder lebih banyak dari lilitan primer
- Mengubah tegangan dari 220 volt menjadi 100, 110 dan 220 volt
- Menaikkan tegangan dari 110 menjadi 200, 220 dan 240 volt
4.
Trafo Output ( OT )
Komponen ini juga bisa di sebut trafo OT. Komponen ini banyak digunakan pada
rangkaian amplifier, radio penerima, tape recorder dan seperangkat elektronika
yang menghasilkan bunyi lainnya. Bentuk fisiknya hampir sama dengan trafo
lainnya dhanya ukuran yang berbeda. Di dalamnya berisi lilitan coil dari
nikelin. Besar kecilnya arus masuk tergantung dari lilitan tersebut.
Gambar trafo output
Bagian melintang pelat yang
memperkuat bungkusan kertas dan kertas ini digunakan sebagai alat pemisah arus
dari lilitan sekunder dan primer. Pada bagian bawah menyembul kaki, ada lima
kaki dua pada bagian output dan tiga bagian in ( arus masuk ).
Jenis-Jenis Transistor
Jenis-Jenis
Transistor dan cara kerja transistor pada
umumnya dibagi menjadi dua jenis yaitu; Transistor Bipolar (dwi kutub)
dan Transistor Efek Medan (FET – Field Effect Transistor).
Transistor Bipolar adalah jenis transistor yang paling banyak di gunakan pada
rangkaian elektronika. Jenis-Jenis Transistor ini terbagi atas 3
bagian lapisan material semikonduktor yang terdiri dari dua formasi
lapisan yaitu lapisan P-N-P (Positif-Negatif-Positif) dan lapisan N-P-N (Negatif-Positif-Negatif).
Sehingga menurut dua formasi lapisan tersebut transistor bipolar dibedakan
kedalam dua jenis yaitu transistor PNP dan transistor NPN.
Masing-masing dari ketiga kaki jenis-jenis transistor ini di beri nama B (Basis),
K (Kolektor), dan E (Emitor). Fungsi transistor bipolar ini
adalah sebagai pengatur arus listrik (regulator arus listrik),
dengan kata lain transistor dapat membatasi arus yang mengalir dari Kolektor ke
Emiter atau sebaliknya (tergantung jenis transistor, PNP atau NPN).
Ganbar jenis-jenis transistor
Transistor Efek Medan (FET – Field Effect Transistor)
merupakan jenis transistor yang juga memiliki 3 kaki terminal yang
masing-masing diberi nama Drain (D), Source (S),
dan Gate (G). Cara kerja transistor ini
adalah mengendalikan aliran elektron dari terminal Source ke Drain melalui
tegangan yang diberikan pada terminal Gate.
Perbedaan antara transistor bipolar dan transistor FET adalah jika
transistor bipolar mengatur besar kecil-nya arus listrik yang melalui kaki
Kolektor ke Emiter atau sebaliknya melalui seberapa besar arus yang diberikan
pada kaki Basis, sedangkan pada FET besar kecil-nya arus listrik yang mengalir
pada Drain ke Source atau sebaliknya adalah
dengan seberapa besar tegangan yang diberikan pada kaki Gate.
Selain di gunakan sebagai penguat, transistor digunakan sebagai saklar.
Caranya adalah dengan memberikan arus yang cukup besar pada basis
transistor hingga mencapai titik jenuh. Pada kondisi seperti ini kolektor dan
emitor bagai kawat yang terhubung atau saklar tertutup, dan sebaliknya jika
arus basis teramat kecil maka kolektor dan emitor bagai saklar terbuka.
Fungsi transistor adalah sebagai sebagai penguat, sebagai sirkuit pemutus
dan penyambung (switching), stabilisasi tegangan, modulasi sinyal.
Transistor mempunyai 3 jenis yaitu :
1. Uni
Junktion Transistor (UJT)
2. Field
Effect Transistor (FET)
3. MOSFET
1. Uni Junktion Transistor (UJT)
Gambar symbol dan gambar transistor type UJT
Uni Junktion Transistor (UJT)
adalah transistor yang mempunyai satu kaki emitor dan dua basis. Kegunaan
transistor ini adalah terutama untuk switch elektronis.
Ada Dua jenis UJT ialah UJT Kanal N dan UJT Kanal P.
Ada Dua jenis UJT ialah UJT Kanal N dan UJT Kanal P.
2. Field Effect Transistor (FET)
Gambar symbol dan gambar transistor type FET
Beberapa
Kelebihan FET dibandingkan dengan transistor biasa ialah antara lain
penguatannya yang besar, serta desah yang rendah. Karena harga FET yang lebih
tinggi dari transistor, maka hanya digunakan pada bagian-bagian yang memang
memerlukan.
Bentuk fisik FET ada berbagai macam
yang mirip dengan transistor. Jenis FET ada dua yaitu Kanal N dan Kanal P.
Kecuali itu terdapat pula macam FET ialah Junktion FET (JFET) dan Metal
Oxide Semiconductor FET (MOSFET).
3. MOSFET
Gambar symbol dan gambar transistor type MOSFET
MOSFET (Metal Oxide Semiconductor FET) adalah suatu jenis
FET yang mempunyai satu Drain, satu Source dan satu atau dua Gate. MOSFET
mempunyai input impedance yang sangat tinggi. Mengingat harga yang cukup
tinggi, maka MOSFET hanya digunakan pada bagian bagian yang benar-benar
memerlukannya. Penggunaannya misalnya sebagai RF amplifier pada receiver untuk
memperoleh amplifikasi yang tinggi dengan desah yang rendah. Dalam pengemasan
dan perakitan dengan menggunakan MOSFET perlu diperhatiakan bahwa komponen ini
tidak tahan terhadap elektrostatik, mengemasnya menggunakan kertas timah,
pematriannya menggunakan jenis solder yang khusus untuk pematrian MOSFET.
Seperti halnya pada FET, terdapat dua macam MOSFET ialah Kanal P dan Kanal N.
THanks....
THanks....


















13 Juni 2019 pukul 21.19
makasih, infonya sangat bermanfaat
Solder uap